TRENDING TOPIC #PARIS ATTACK #USA vs RUSSIA #MOST VIDEO
Follow

atjehcyber thumbkanan

rental mobil di aceh, rental mobil aceh, jasa rental mobil aceh, sewa mobil di aceh, rental mobil banda aceh, sewa mobil di banda aceh

atjehcyber stick

#TAGatjehcyber Home /

“Mereka yang Terlupakan…”

Tuesday, January 03, 2012 18:38 WIB

Dibaca:   kali

atjehcyber, atjeh cyber, atjeh news, atjeh media, atjeh online, atjeh warrior, acehcyber, aceh cyber, aceh warrior, aceh cyber online, atjeh cyber warrior
Abdullah, 70, korban konflik asal Lhok Geulitut, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara
berdiri dengan kaki gemetaran di rumahnya yang rusak akibat konflik di Gampong Lhok Geulitut,
Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Senin (2/1). (HARIAN ACEH | ERWIN)

 “Saat itu rumah saya dibombardir oleh tank (alat perang, Red) dalam drama yang berlangsung selama 2 jam itu. Peristiwa itu sendiri masih mengganggu pikiran saya sampai sekarang,” ucap sang kakek ambil meneteskan air mata.

Abdullah alias Kek Lah, 70, korban konflik asal Gampong Lhok Geulitut, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara seakan tak kenal lelah berdiri tegak di halaman rumahnya. 

Dengan kaki gemetaran setelah divonis terkena komplikasi, mulai asam urat, kencing manis, diabetes hingga gejala lumpuh, ia seakan terpasung kaku di sebuah gubuk derita yang nyaris roboh, beratapkan rumbia, dan berdidingkan kayu bekas.

Tempatnya berteduh itu hanya beberapa meter dari bangunan rumahnya yang rusak parah pasca dibombardir saat terjadi kontak tembak antara GAM dengan aparat keamanan pada tanggal 6 Juni 2005 silam.

Rumah berekonstruksi permanen berukuran panjang 7×8 dan 5×10 dengan dinding, atap dan lantainya yang porak poranda diterjang timah panas. Rumah yang kini menjadi saksi bisu kelamnya nasib Kek Lah yang kehilangan harta bendanya plus terabaikan dari sekelilingnya.

“Saat itu rumah saya dibombardir oleh tank (alat perang, Red) dalam drama yang berlangsung selama 2 jam itu. Peristiwa itu sendiri masih mengganggu pikiran saya sampai sekarang,” ucap sang kakek ambil meneteskan air mata saat ditemui Harian Aceh, Senin (2/1).

Menurut dia, kerugian materil yang dialaminya pasca kejadian itu mencapai sekitar Rp200 juta akibat bangunan rumahnya yang mengalami ‘bolong-bolong’ besar. “Jadinya, terpaksa ditinggal terlantar, dan kini dihuni oleh hewan ternak peliharaan saya,” ujarnya.

Sementara kepedulian Badan Reintegrasi-Damai Aceh (BRA) untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban konflik itu masih jauh dari harapan. Dimana, bantuan yang diberikan sangat pas-pasan. “Jangankan untuk perbaikan rumah yang rusak, untuk biaya berobat dan kebutuhan sehari-hari saja begitu ‘mencekik’,” sebut Kek Lah.

“Uang BRA tak seberapa, belum persoalan dana yang tak utuh, hingga pengeluaran selama proposal dilayangkan ke Kantor Bupati Aceh Utara berjarak sekitar 67 kilometer dari arah timur Kota Lhokseumawe. Jadi, bisa dibilang sama dengan nol,” keluhnya, yang kerap harus menghabiskan waktu di kasur tua di gubuk miliknya.

Dengan segala keterbatasanya, mantan keuchiek Ulee Titi itu mengaku begitu membutuhkan uluran tangan pemerintah dan para dermawan guna membantu memperbaiki rumahnya itu. Termasuk penanganan medis yang memadai untuk mengatasi gangguan kesehatan yang dideritanya. Semoga! [erwin/HA]

KOMENTAR
DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Artikel Pilihan Pembaca :

mobile=show

Copyright © 2015 ATJEHCYBER — All Rights Reserved