TRENDING TOPIC #PARIS ATTACK #USA vs RUSSIA #MOST VIDEO
Follow

atjehcyber thumbkanan

rental mobil di aceh, rental mobil aceh, jasa rental mobil aceh, sewa mobil di aceh, rental mobil banda aceh, sewa mobil di banda aceh

atjehcyber stick

#TAGatjehcyber Home / /

Surat untuk Asma El-Beltagi, Seketika Erdogan Menagis

Friday, August 23, 2013 21:00 WIB

Dibaca:   kali

atjehcyber, atjeh cyber, atjeh news, atjeh media, atjeh online, atjeh warrior, acehcyber, aceh cyber, aceh warrior, aceh cyber online, atjeh cyber warrior

Dalam sebuah acara televisi yang disiarkan channel Ulke secara live, Erdogan menangis ketika dibacakan surat Beltagi kepada puterinya, Asmaa yang telah syahid pada pembantaian Rab’ah 16 Agustus yang lalu.

Ketika ditanya tentang sebab menangisnya, Erdogan menjawab, “selesai bekerja, aku selalu pulang ke rumah. Seringnya pulang malam-malam. Pernah anakku menulis pesan yang ditempel di pintu kamarku. Pesanya, “Ayah, tolong beri kami satu malam saja.”

Aku memang terlalu sibuk dengan tanggung jawab besar yang sudah kurancang sejak dulu. Saking sibuknya, sering aku pulang pukul 1 atau 2. Tentunya semua anakku telah tidur.

Ketika mendengarkan dibacakannya surat ini, aku membayangkan seakan-akan anak-anakku itu adalah Asmaa.

Sangat mengharukan juga, seorang ayah tidak bisa menshalati jenazah puterinya sendiri.

Puterinya adaah seorang gadis yang pandangan matanya penuh dengan harapan masa depan. Kepergiannya yang sangat cepat sungguh sangat mengharukanku.

Memang mati syahid adalah hal yang sangat istemewa. Asmaa sangat cepat bersanding dengan deretan para syuhada, sebelum dia banyak menikmati kehidupan dunia ini.

Aku yakin, sikap Beltagi kepada puterinya ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi dunia Islam, contoh bagi para pemuda, dan contoh bagi para orang tua bagaimana bersikap kepada anaknya.

Aku berkata seperti ini bukan sebagai perdana menteri, tapi sebagai rakyat biasa, Erdogan.”

***


Asma al-Beltaji, seorang wanita berparas cantik yang mengambil bagian dalam aksi unjuk rasa menentang kudeta militer yang menggulingkan presiden Muhammad Mursi dan menjadi salah satu korban kebrutalan tentara junta, adalah seorang putri dari pemimpin Ikhwanul Muslimin (IM) Mesir, Mohammad al-Beltaji.

Setelah kematiannya oleh penembak jitu pada Rabu pekan lalu di kamp Rabaa al-Adawiyah, sang ayah mengungkapkan perasaannya kepada putrinya dan ia tuliskan dalam bentuk surat.

Berikut surat yang dituliskan oleh Mohammad al-Beltaji kepada putrinya yang telah syahid:

Putriku tercinta dan guru yang tak ternilai Asma al-Beltaji, saya tidak mengucapkan selamat tinggal kepadamu, saya katakan besok kita akan bertemu lagi.

Engkau telah hidup dengan kepala terangkat ke atas, melakukan pemberontakan melawan tirani dan belenggu dan mencintai kebebasan. Dengan diam engkau telah hidup sebagai seorang pencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini sehingga mereka mempunyai tempat yang layak di antara peradaban.

Engkau tidak pernah menyibukkan diri dengan apa yang orang-orang seusiamu sibuk melakukannya. Meskipun pendidikan tradisional gagal memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, engkau selalu menjadi yang terbaik di dalam kelas.

Saya tidak memiliki cukup waktu yang berharga dalam hidup yang singkat ini, terutama waktu-waktu yang dihabiskan bersamamu. Terakhir kali kita duduk bersama di kamp Rabaa al-Adawiyah, engkaum mengatakan kepadaku : “bahkan ketika ayah bersama kami, ayah sibuk” dan saya katakan : “tampaknya kehidupan ini tidak cukup untuk kita nikmati bersama, jadi saya meminta kepada Allah agar kita bisa menikmatinya di surga”.

Dua malam sebelum engkau dibunuh, saya melihatmu dalam mimpi mengenakan gaun pengantin putih dan engkau terlihat begitu anggun. Ketika engkau duduk di sampingku, aku bertanya : “Apakah ini malam pernikahanmu?” Engkau menjawab : “Tidak bukan malam ini, tapi sore.”

Ketika mereka bilang engkau dibunuh pada Rabu sore, aku mengerti apa yang engkau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai syuhada. Engkau telah memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita dalam kepalsuan.


Yang membuatku sakit adalah aku tidak bersamamu di saat terakhirmu dan aku tidak bisa melihat dan mencium dahimu untuk terakhir kalinya dan mendapat kehormatan melakukan sholat jenazah untukmu. Bukan, bukan karena aku takut untuk hidup di penjara atau terbunuh, tetapi engkau harus tahu bahwa aku tidak di sana untuk menyelesaikan revolusi ini, untuk menang dan mencapai tujuannya.

Jiwamu telah diangkat dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru telah memukul dadamu. Ada tekad dan jiwa yang besar dalam dirimu. Aku percaya bahwa engkau setia pada janji Allah dan Dia pun setia kepada janji-Nya untukmu. Itulah mengapa bukan kami yang diberikan syahid ini, melainkan engkau.

Putriku dan guruku tercinta…..

Saya tidak akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan para sahabatnya di tepi kolam Surga Kautsar dan itu adalah pertemuan dimana kita bisa memliki satu sama lain.

Berikut Videonya:



(*/ATJEHCYBER/DWT/ARR)

Like → Tweet :
Join → Follow :
KOMENTAR
DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Artikel Pilihan Pembaca :

mobile=show

Copyright © 2015 ATJEHCYBER — All Rights Reserved